Kamis, April 25, 2013

Mengukur "kebersihan" upah (gaji)

Saya disini menggunakan kata "kebersihan" karena tidak berani menggunakan kata "kesucian" walaupun yang saya maksudkan sebenarnya adalah yang terakhir saya sebutkan (kesucian). Saya pikir sudah seharusnya kita sebagai penerima upah (atau apapun sebutan lainnya; krn ada yang menyebut gaji, tunjangan, insentif, honor, imbalan, dll) untuk mengukur tingkat kebersihan terhadap upah kita sendiri (jangan mengukur upah orang lain jika tidak diminta, tidak baik dan buang2 energi he he). 
kita perlu menyelidik kembali apakah upah kita dibayar atas waktu kita yang tersita untuk pekerjaan, atau kinerja yang kita persembahkan untuk intansi, atau karena waktu dan kinerja atau bahkan karena tanda tangan kehadiran. Saya meyakini (tp sedikit ada keraguan ha ha) semua pasti setuju bahwa upah yang kita terima baru akan sah menjadi milik kita ketika kita sudah memberikan kepada si pemberi upah sesuai kesepakatan awal. nah disini kita perlu melihat apa kesepakatan awal kita pada saat kita bekerja sehingga kita dibayar oleh sipemberi upah. 
Jika kita dibayar karena waktu kita, tentu kita sudah dijelaskan mengenai standar waktu yang harus kita patuhi. misalnya kita diwajibkan bekerja 8 jam sehari, maka perlu kita cermati apakah selama ini kita sudah bekerja 8 jam sehari, mungkin kita tanpa sadar dalam range waktu 8 jam telah kita habiskan diwarung kopi, menjemput rezeki ditempat lain, pulang cepat atau datang terlambat. ini semua peru kita hitung kembali agar kita bisa mengukur kejernihan upah kita. apakah keluar diberikan izin oleh sipemberi upah, dengan alasan yang dapat diterima dan sebagainya.
Jika kita dibayar karena kinerja kita, ini akan lebih rumit dibandingkan dengan standar waktu. apanya yang rumit?? pada beberapa bidang pekerjaan sangat rumit menentukan standar kinerja yang harus terpenuhi sehingga kita sulit mengukur apakah kita sudah layak menerima upah atau tidak. rumit bukan berarti tidak mungkin, kita masih bisa mencoba membuka kembali SOP (jika ada), atau kontrak kerja, atau bertanya kepada pihak manajemen (pemberi upah) kinerja apa yang diinginkan dari kita sehingga kita layak menerima upah. biasa pasti sudah dibicarakan diawal pekerjaan (jika PNS bisa didapat pada saat Dikat Prajabatan).
Namun apapun standar kelayakan kita menerima upah, yang paling penting adalah objektifitas penilaian kita terhadap diri kita sendiri. terkadang kita sering menjustiifikasi sendiri bahwa sudah memberikan kinerja yang diharapkan atau memberikan pembenaran terhadap prilaku kita. sebagai contoh kita sering mengatakan "kan gak apa apa, sesekali pulang cepat, biasanya saya juga pulang paliing telat setiap hari". nah, hal ini merupakan pembenaran yang bisa menjebak diri kita sendiri untuk terus menerima upah yang tak layak.
perntanyaan terkahir kepada diri kita sendiri adalah jika saja kita belum layak menerima upah kita, apa yang akan kita lakukan??? untuk ditanya dan dijawab kepada diri masing-masing.

(sekali lagi, MOHON JANGAN MENGUKUR UPAH ORANG LAIN, TULISAN INI UNTUK MENGAJAK TEMAN MENGUKUR UPAH KITA MASING. mungkin tulisan ini tidak sempurna, tidak beraturan, harap maklum karena baru belajar menulis. silakan memberikan saran)

Mengapa masih ada prilaku masyarakat menggunakan wc tak sehat dan solusinya


Saya tertarik mengulas masalah ini karena kerap kita menjumpai masih ada prilaku masyarakat yang menggunakan wc yang tidak sehat (tentunya menurut akademisi dan praktisi kesehatan, bukan menurut mereka). Bahkan kita kerap menjumpai pada masyarakat yang sudah diberi tahu atau diberi penyuluhan, sehingga muncul pertanyaan apakah benar mereka menggunakan wc tak sehat karena tidak tahu atau ada faktor lain seperti faktor ekonomi atau kenyamanan?

WC merupakan tempat buang air besar (selanjutnya disingkat BAB) yang merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Bahkan bisa jadi manusia akan lebih susah jika dilarang BAB daripada dilarang makan, begitu pentingnya BAB. Nah untuk memenuhinya maka manusia sebagai makhluk kreatif menciptakan sebuah tempat yang dapat diterima oleh superegonya seperti faktor sosial, agama dan lingkungan sehingga muncul sebuah konsep konstruksi bangunan yang disebut WC dengan desain sesuai kontruksi sosial dan ekonomi setempat.

Sehat atau tidaknya sebuah WC tentunya sangat dipengaruhi oleh desain yang dihasilkan tadi oleh masyarakat setempat, sehingga jika kita menemukan adanya indikator tidak sehat artinya desainya yang tidak sehat sehingga perlu kita kaji faktor apa saja yang mempengaruhi desai WC tadi. Ibarat orang akan membuat rumah, tentu akan membuat gambar desain terlebih dahulu dengan mempertimbangkan luas tanah, uang yang ada, kapan akan ditempati, begitu juga dengan WC.

Berdasarkan pengalaman saya pribadi, setelah bertanya dengan beberapa orang di  beberapa tempat (bukan hasil penelitian ya) mengapa bentuk dan lokasi wc seperti “itu” (“itu” adalah bentuk wc yg digunakan), maka saya menemukan jawaban yang beragam memang, tapi dari berbagai jawaban tersebut dapat simpulkan bahwa core problemnya adalah faktor ekonomi yang berimbas pada pembentukan prilaku.

Berdasarkan teori, sebenar banyak faktor yang dapat mempengaruhi prilaku manusia, jadi tidak hanya faktor ekonomi.  Menurut Green, prilaku dapat dibentuk oleh faktor predisposisi (pengatahuan, keyakinan, sikap, dll), faktor pemungkin (umur, pendidikan, status sosial ekonomi) dan faktor penguat (contohnya tokoh masyarakat, mahasiswa kesehatan yang lagi kuliah lapangan, tenaga kesehatan setempat). Namu jika kita melihat hasil riskendas tahun 2007 bahwa ada kecenderungan semakin tinggi kuintil (tingkat pengeluaran per kapita) semakin banyak yang menggunakan leher angsa dan menurut Joint Monitoring Program WHO/Unicef, akses sanitasi disebut “baik” bila rumah tangga menggunakan sarana pembuangan kotoran sendiri dengan jenis sarana jamban leher angsa sehingga disini saya menyimpulkan status sosial ekonomi sangat mempengaruhi prilaku penggunaan jamban.

Bahkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dunggio (2012) menyimpulkan Kondisi jamban di desa Modelomo Kecamatan Kabila Bone berada pada kategori buruk sebanyak 238 (90,8%) orang dari 262 responden dan Faktor penyebabnya adalah tingkat pendapatan ataupun perkenomian masyarakat modelomo yang berpenghasilan rendah. Disini jelas membuktikan faktor ekonomi sangat mempengaruhi pemmbentukan prilaku penggunaan jamban.

Nah, apa mamfaatnya jika hanya sebatas tahu penyebab tapi tidak mencari tahu solusi. Secara teoritis sangat banyak solusi yang dapat digunakan dan tentunya jika kita ingin mengubah prilaku maka harus diperhatikan faktor pembentuk perilakunya. Artinya tidak cukup hanya dengan melihat bahwa penggunaan WC tidak sehat terus menyimpulkan masalahnya adalah WC tidak sehat. Kita perlu mengkaji terlebih dahulu bagaima status sosial ekonomi, pendidikan, keyakinan, lingkungan, sikap, dll, sehingga kita tidak terjebak pada intervensi yang tak menyentuh “core problem”-nya, sehingga sering kita lihat masyarakat yang sudah mendapat penyuluhan tapi  tetap menggunakan WC yang tak sehat.

 Apakah jika kita memutuskan bahwa “core problem”nya adalah faktor ekonomi solusinya kasih uang atau bangun WC gratis?, silahkan saja jika ada kemampuan he he... namun yang ingin saya sampaikan adalah masalah WC bisa teratasi dengan menyentuh akar masalahnya seperti penggunaan sumber daya yang tersedia tanpa harus mengeluarkan biaya, diskusi mengenai kelola ekonomi keluarga yang hemat dan prioritas, patungan dengan tetangga untuk membuat satu WC untuk bersama, bahka sekarang sangat memungkinkan jika diusulkan melalui musrembang tiingkat gampong, ADG, PNPM Mandiri, BKPG dan lainnya.

Namun jika masih tidak memungkinkan dengan solusi diatas apa tidak ada solusi lain. Sebenarnya dalam konsep perekonomian islam masih sangat dimungkinkan, dDisinilah peran fungsi SEDEKAH untuk dioptimalkan. tidak ada salah jika kita yang mempunyai sedikit kemampuan ekonomi untuk membantu saudara kita yang membutuhkan sarana kebersihan diri yang layak, dan sudah seharusnya jika ada orang disekeliling kita membutuhkan maka harus kita bantu semampunya.

Nah, pertanyaan terakhir; JIKA KITA SUDAH TAHU WC YANG DIGUNAKAN OLEH SESEORANG TIDAK SEHAT, PERLUKAH MENUNJUKKAN KEKURANGAN TERSEBUT KESEMUA ORANG DENGAN ALASAN AGAR MENJADI CONTOH YANG BAIK BAGI ORANG LAIN? Mohon jawabannya atau tunggu tulisan saya edisi selanjutnya.

Banda Aceh, 02 April 2013
Ns. Suwardi, S.Kep